EKSISI LUAS KANKER KULIT KEPALA LEHER

Introduksi

a. Definisi

Tindakan  pengangkatan tumor ganas kulit, sehingga tepi-tepi  sayatan bebas tumor  dan secara utuh (enbloc).

b. Ruang lingkup

Tumor ganas kulit  yang masih memungkinkan untuk dieksisi secara radikal.

c. Indikasi operasi

Tumor ganas kulit

d. Kontra indikasi

Ko-morbiditas berat

e. Diagnosis Banding

1. Basalioma / Basal Cell Carcionoma (BCC)

2. Epidermoid Ca / Squamous Cell Carcinoma (SCC)

3. Melanoma maligna

f. Pemeriksaan Penunjang

FNAB, biopsi terbuka, foto polos kepala, CT Scan kepala, frozen section

Teknik Operasi

Tahapan operasi

  • Pada waktu induksi berikan antibiotika profilaksis, anestesi umum intubasi nasotrakheal dengan fiksasi ke frontal.
  • Posisi penderita telentang, kepala ekstensi dengan meletakkan bantal di bawah pundak penderita, dan meja sedikit head up 20-25o.
  • Pasang tampon steril di orofaring, lakukan desinfeksi rongga mulut dengan menggunakan lar. hibicet 1:30 sambil mengevaluasi kondisi intra oral (apabila lapangan operasi melibatkan oral).
  • Desinfeksi lapangan operasi luar dengan menggunakan larutan Hibitane-alkohol 70%  1 : 1000.
  • Lapangan operasi dipersempit dengan kain steril.
  • Perhatikan batas lesi pada kulit beri tanda dengan menggunakan metilin blue kemudian ambil jarak 1 sampai 2cm dari tanda tadi sebagai tepi sayatan, sayatan kita bentuk poligonal dan usahakan betul-betul adekuat sehingga bisa diberi tanda sudut sayatan dan bisa dievaluasi radikalitas operasi dari tepi dan dasar dari sayatannya. Ulkus ditutup (diisolasi dengan kassa steril yang dijahitkan pada kulit disekitar ulkus menggunakan benang sutera 02. Eksisi harus adekuat, insisi kulit diperdalam sampai kedalaman yang bebas > 1 cm dari dasar tumor, baru kemudian menyusuri dasar eksisi kearah tengah. Apabila ternyata tumor  mengenai tulang maka harus dilakukan osteotomi sehingga radikalitas bisa tercapai (evaluasi foto polos/CT Scan sebelum operasi apabila tumornya lekat dengan tulang).
  • Kontrol perdarahan yang cermat selama melakukan deseksi.
  • Beri tanda pada sudut poligonal spesimen yang ada dengan menggunakan benang sutera 03 dengan berbagai ukuran (misalnya panjang-pendek untuk sudut kranial; panjang-panjang untuk sudut lateral dsb.) sehingg dokter spesialis patologi  bisa mendiskripsikan sisi mana yang sayatannya kurang radikal (bila ada).
  • Buatkan pengantar PA dengan skema serta tanda pada poligonal sayatan tadi, serta keterangan klinis dari penyakitnya. Pada pemeriksaan frozen section mintakan evaluasi radikalitas sayatan.
  • Apabila sayatan sudah radikal, maka lakukan penutupan luka.
  • Bila defek tidak terlalu besar, lakukan undermining pada kulit sekitar defek sehingga memungkinkan untuk dilakukan penutupan secara primer.
  • Perhatikan jangan sampai terjadi tarikan yang akan menimbulkan gangguan fungsi (bibir; palpebra dsb.) seandainya ada maka lebih baik lakukan lokal flap (rotation flap).
  • Bila tidak yakin bahwa eksisi cukup radikal maka bisa juga (lebih aman) penutupannya dengan skin graft.
  • Apabila flap cukup luas maka perlu dipasang redon drain no. 10.
  • Evaluasi ulang perdarahan yang terjadi.
  • Jaringan subkutan dijahit menggunakan benang vicryl 0/3,  kulit dijahit dengan benang dermalon 0/5 atau sejenis.
  • Luka operasi ditutup dengan kassa steril dan dihipafix sedemikian rupa sehingga pergerakan bibir, mata dan leher tetap bebas.
  • Apabila melakukan skin graft, maka instrumen yang dipergunakan untuk mengambil donor harus alat baru sehingga tidak terkontaminasi, demikian juga lakukan perawatan pada tempat donor terlebih dahulu.

g. Komplikasi operasi

  • Perdarahan

Bila produksi drain > 100cc dalam 1 jam pertama, sementara itu luka operasi tampak  tegang akibat hematoma maka pikirkan untuk eksplorasi dan menghentikan perdarahan.

  • Dehisensi

Terjadi akibat infeksi, gisi pasien kurang , atau terdorong oleh ujung drain Redon. Segera lakukan koreksi secara pembedahan dengan jahitan situasi pada dihisensi luka operasi kulit,dan kedap air untuk dehisensi luka operasi mukosa.

  • Infeksi luka operasi

Tampak tanda radang, pus dan luka operasi terbuka. Kompres dengan larutan garam fisiologis, lakukan kultur dan test sensitivitas pus. Antibiotika sesuai pola kuman atau sesuai hasil  kultur.

  • Sukar makan yang berkepanjangan

Bila  mengancam kemerosotan keadaan status gizi maka dianjurkan  gastrostomi atau pemasangan pipa nasogatrik.

h. Mortalitas

Stadium dini – mortalitas rendah

Stadium lanjut – mortalitas tinggi

i. Perawatan Pasca Bedah

  • Infus lar. RL dan Dextrose 5%  dengan perbandingan 1 : 4, diberikan sesuai kebutuhan  atau sebanyak 50 ml/kgBB/24 jam pada hari pertama.
  • Perhatikan jalan nafas jangan sampai aspirasi, periodik dilakukan penghisapan lendir/liur,
  • Menggunakan alat penghisap. Bila muntah miringkan kepala dan hisap dengan alat penghisap.
  • Pemberian antibiotika profilaksis dilanjutkan selama 1 hari dengan interval 8 jam.
  • Pada saat penderita   sadar baik maka bisa dicoba minum sedikit demi sedikit dan bila setelah 2 jam  tidak apa-apa maka bisa dicoba makan/minum bebas.
  • Bila pemberian makanan sudah bisa terpenuhi lewat oral serta obat injeksi sudah selesai maka infus bisa dilepas.  Penderita latihan mobilisasi mulai dari duduk – berdiri – jalan.
  • Pada yang menggunakan drain Redon, maka drain divakum ulang setiap hari dan produksi drain  dicatat  kwalitas serta jumlahnya. Drain dilepas jika jumlah cairan <dari 10 ml/24 jam.
  • Luka operasi dirawat pada hari ke-3, ganti verban, untuk penderita yang dilakukan skin graft, pada waktu rawat luka pada graft hanya diganti kasa yang luarnya saja sedang kasa yang menempel pada graft  dibuka pada hari ke-5 dengan evaluasi take atau tidak  dan selanjutnya bila luka sudah kering/menutup maka bisa dilakukan rawat luka terbuka.  Angkat jahitan dilakukan hari ke-7 post opt operasi
  • Penderita dipulangkan setelah stabil dan sehari setelah angkat drain.
  • Membawa hasil pemeriksaan PA dan resume penderita selama opname dari ruangan.

j.  Follow-Up

  • Klinis:  evaluasi keadaan umum, lokal, regional.
  • Tergantung hasil PA, derajat keganasan serta radikalitas operasi.
  • Radioterapi pasca bedah lokoregional, dilakukan bila penyembuhan luka operasi sudah cukup
  • baik (± 6 minggu setelah operasi).
  • Dosis 6000 rad , diberikan bila  :

–   Lokal:  pada  T3 atau T4, atau setiap T dengan grade III – IV

–    Bila tepi eksisi tidak radikal.

–    Regional (Leher): Pembesaran kelenjar getah bening leher yang masif

–    Metastase pada lebih dari satu kelenjar getah bening

–   Pada hasil PA dinyatakan adanya infiltrasi ekstranodal

–  Hanya dilakukan Modifikasi  RND .

Jadwal follow-up :

Tahun ke 1            : setiap 1 bulan sekali

Tahun ke 2            : setiap 2 bulan sekali

Tahun ke 3-4         : setiap 3 – 4 bulan sekali

Tahun ke 5            : setiap 6 bulan sekali

  • X-foto thoraks dikerjakan setiap tahun sekali, pemeriksaan penunjang lainnya sesuai indikasi.

Dilakukan FNAB, apabila dicurigai rekurensi lokal atau regional.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s