REPOSISI FRAKTUR NASAL

Introduksi

a. Definisi

Tindakan melakukan pengembalian dari fragmen tulang nasal yang mengalami patah tulang kembali ke kedudukan semula

b. Ruang lingkup

Fraktur nasal adalah fraktur pada os nasal akibat adanya ruda paksa

c. Indikasi operasi

Deformitas

d. Kontra indikasi operasi

Tidak ada kontra indikasi operasi fraktur nasal

e. Diagnosis banding

  • Fraktur naso etmoidalis kompleks
  • Fraktur maksila

f. Pemeriksaan penunjang

foto nasal, untuk menyingkirkan diagnosis banding dengan foto waters

Teknik Operasi

Menjelang operasi

  • Penjelasan kepada penderita dan keluarganya mengenai tindakan operasi yang akan dijalani serta resiko komplikasi disertai dengan tandatangan persetujuan dan permohonan dari penderita untuk dilakukan operasi (Informed consent).
  • Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi. Instrumen yang digunakan untuk reduksi tertutup adalah elevator Boies atau Ballenger, forcep Asch dan Walsham.
  • Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi .
  • Antibiotika profilaksis, Cefazolin atau kombinasi Clindamycin dan Garamycin, dosis menyesuaikan untuk profilaksis.

I. REDUKSI TERTUTUP

  • Pembiusan dengan anestesi umum
  • Posisi pasien terlentang, dikerjakan di kamar operasi dengan anestesi general atau lokal.
  • Disinfeksi lapangan operasi dengan larutan hibitan-alkohol 70% 1:1000.
  • Lapangan operasi dipersempit dengan linen steril
  • Jarak antara tepi rongga hidung ke sudut nasofrontal diukur, kemudian instrumen dimasukkan sampai batas kurang 1 cm dari pengukuran tadi.
  • Fragmen yang depresi diangkat dengan elevator dalam arah berlawanan dari tenaga yang menyebabkan fraktur, biasanya kearah antero-lateral. Reposisi fraktur nasal dapat dilakukan dengan forsep Walsam, sedangkan untuk reposisi fraktur septum digunakan forsep Walsam.
  • Jangan terlalu ditekan (dibawah tulang hidung yang tebal dekat sutura nasofrontal) karena daerah ini jarang terjadi fraktur, lagipula bisa menyebabkan robekan mukosa dan perdarahan.
  • Reduksi disempurnakan dengan melakukan ‘molding’ fragmen sisa dengan menggunakan jari. Pada kasus fraktur dislokasi piramid bilateral, reduksi septum nasal yang tidak adekuat menyebabkan reposisi hidung luar tidak memuaskan.
  • Stabilisasi septum dengan splints Silastic, pasang tampon pada tiap lubang hidung dengan sofratul. Splints dengan menggunakan gips kupu-kupu. Tampon dilepas pada hari ke 3 paska reposisi.
  • Meskipun kebanyakan fraktur nasal dan septal dapat direduksi secara tertutup, beberapa hasilnya tidak optimal, disini penting merencanakan reduksi terbuka.

II. REDUKSI TERBUKA

Tahapan operasi

  • Penderita dalam anestesi umum dengan pipa orotrakheal,  posisi telentang dengan kepala  sedikit ekstensi.
  • Desinfeksi lapangan operasi dengan larutan Hibitane dalam alkohol 70%  1: 1000, seluruh wajah  terlihat.
  • Persempit lapangan operasi dengan menggunakan kain steril
  • Insisi  pada kulit ada beberapa pilihan, melalui bekas laserasi yang sudah terjadi, insisi “H”, insisi  bilateral Z, Vertikal midline, insisi bentuk “W”.
  • Insisi diperdalam sampai perios dan perdarahan yang terjadi dirawat.
  • Perios diinsisi, dengan rasparatorium kecil fragmen tulang dibebaskan.
  • Dilakukan pengeboran fragmen tulang  dengan mata bor diameter  1 mm, tiap pengeboran  lindungi dengan rasparatorium dan disemprot dengan aquadest steril.
  • Lakukan reposisi dan fiksasi antara kedua fragmen tulang dengan menggunakan kawat 03 atau  05, sesuaikan dengan kondisi fragmen tulang. Pada fraktur komunitif dapat dipertimbangkan penggunaaan bone graft.
  • Luka diirigasi dengan larutan garam faali.
  • Luka operasi dijahit lapis demi lapis, perios, lemak subkutan dijahit dengan vicryl atau dexon 03, kulit dijahit dengan dermalon 05.

g. Komplikasi operasi

Komplikasi awal/cepat: mencakup keadaan edema, ekimosis, epistaksis, hematoma, infeksi dan kebocoran liquor.

Hematom cukup serius dan membutuhkan drainase. Harus dicari adanya hematom septal pada setiap kasus trauma septal karena kondisi ini menyebabkan timbulnya infeksi sehingga kartilago septal hilang dan akhirnya terbentuk deformitas pelana. Hematom septal harus dicurigai jika didapati nyeri dan pembengkakan yang menetap; komplikasi ini perlu diperhatikan pada anak-anak. Splint silastic dapat digunakan untuk mencegah reakumulasi darah pada tempat hematom.

Epistaksis biasanya sembuh spontan tapi jika kambuh kembali perlu dikauter, tampon nasal atau ligasi pembuluh darah. Perdarahan anterior karena laserasi arteri etmoid anterior, cabang dari arteri optalmikus (sistem karotis interna). Perdarahan dari posterior dari arteri etmoid posterior atau dari arteri sfenopalatina cabang nasal lateral, dan mungkin perlu ligasi arteri maksila interna untuk menghentikannya. Jika menggunakan tampon nasal, tidak perlu terlalu banyak, karena dapat mempengaruhi suplai darah pada septum yang mengalami trauma sehingga menyebabkan nekrosis.

Infeksi tidak umum terjadi, tapi antibiotik profilaksis penting untuk pasien yang mempunyai penyakit kelemahan kronis, immuno-compromised dan dengan hematom septal.

Kebocoran liquor jarang dan disebabkan fraktur ‘cribriform plate’ atau dinding posterior sinus frontal. Kebocoran kulit cukup diobservasi selama 4 sampai 6 minggu dan biasanya terjadi penutupan spontan. Konsultasi bedah saraf.

Komplikasi lanjut: obstruksi jalan nafas,fibrosis/kontraktur, deformitas sekunder, synechiae, hidung pelana dan perforasi septal. Penatalaksanaan terbaik dari komplikasi ini adalah dengan mencegah terjadinya komplikasi itu sendiri.

g.  Mortalitas

Fraktur nasal saja tanpa perdarahan hebat dan aspirasi tidak mengakibatkan kematian

h. Perawatan Pasca bedah

  • Infus Ringer Laktat/Dekstrose 5 %    1 : 4  dilanjutkan selama 1 hari
  • Antibitika profilaksis diteruskan setiap 8 jam, sampai 3 kali pemberian.
  • Analgetika diberikan kalau perlu
  • Penderita sadar betul boleh minum sedikit, sedikit
  • Bila 8 jam kemudian tidak apa apa boleh makan bubur (lanjutkan 1 minggu)
  • Perhatikan posisi tidur, jangan sampai daerah operasi tertekan.
  • Rawat luka pada hari ke 2-3, angkat jahitan hari ke-7.

i. Follow-Up

  • Tampon hidung dilepas hari 3-4
  • Splint septum dilepas hari 10
  • Gips kupu-kupu dilepas minggu ke-3
  • Kontrol tiap bulan selama 3 bulan

3 Komentar

  1. apakah setiap rumah sakit yang ada untuk THT bisa smua melakukan operasi dgn fasilitas yang lengkap? trims

    • tidak semua RS yang ada THT nya mempunyai fasilitas yang lengkap untuk melakukan operasi….lebih baik ditanyakan saja dulu ke dokter THT nya apakah bisa melakukan operasi di RS tsb…??

  2. misalnya rumah sakit Hermina. yang kita tau adalah spesialisasi untuk ibu dan anak. tapi ada juga THT nya. apakah di rmh sakit ini memadai peralatan untuk tindakan reposisi hidung? Trima kasih


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s