SALPHINGO OOPHORECTOMI BILATERAL PADA KANKER PAYUDARA

Introduksi

a. Definisi

Suatu tindakan pembedahan dengan cara mengangkat ovarium kanan dan kiri sebagai bagian dari terapi hormonal kanker payudara

b. Ruang lingkup

Kelenjar ovarium kanan dan kiri

c. Indikasi operasi

Wanita premenopause dengan kanker payudara stadium lanjut lokal atau lanjut jauh yang pada pemeriksaan imunohistokimia menunjukkan hasil reseptor hormonal yang positif (ER dan atau PR).

Wanita premenopause dengan kanker payudara stadium lanjut lokal atau lanjut jauh yang tidak memungkinkan diperiksa reseptor hormonalnya  karena fasilitas pemeriksaan yang tidak tersedia.

Wanita premenopause dengan kanker payudara yang mengalami kekambuhan lokal atau sistemik dengan reseptor hormonal (ER dan atau PR) yang positif.

d. Kontra indikasi operasi

  • Wanita post menopause
  • Penderita dengan komorbiditas yang berat
  • Tidak ada data mengenai reseptor hormonal (?)

Modalitas terapi hormonal pada penderita kanker payudara:

  • Surgery                   : salphingo oophorectomi bilateral
  • Non surgery          : radio kastrasi
  • Medical ablation : injeksi zoladex, tapros

e. Diagnosa banding

Kanker payudara

f.  Pemeriksaan penunjang

  • Pemeriksaan imunohistokimia (ER,PR) dari kanker payudara
  • USG abdomen: melihat adanya kelainan dalam ovarium

Teknik operasi

  1. Penderita dalam narkose umum atau regional, dipasang kateter dauer dan pinggul diganjal bantal.
  2. Desinfeksi lapangan operasi dengan larutan antiseptik secukupnya, selanjutnya lapangan operasi dipersempit dengan doek steril.
  3. Insisi pfanenstil diperdalam lapis demi lapis sampai membuka peritoneum sambil merawat perdarahan.
  4. Melakukan staging surgikal dengan meraba permukaan liver.
  5. Pasang spreder, usus didorong ke kranial dengan gauze
  6. Adneksa ditarik ke depan dengan memakai klem dan ditarik ke atas.
  7. Uterus ditarik kedepan dengan memakai klem ellis
  8. Jepit klem pada ligamen infundibulo pelvik yang mencakup pembuluh darah ovarium. Kemudian dibuat insisi seperti gambar 6
  9. Pembuluh darah dipisahkan dan diikat dengan benang absorbable no.0
  10. Ligamen di ligasi dengan jahitan matras secara hati-hati agar tidak mengenai vena pada ligamen
  11. Perdarahan pada cornu dapat dihindari dengan membuat jahitan matras yang dalam pada kornu sebelum dieksisi
  12. Luka bekas eksisi adneksa ditutup dengan peritoneum
  13. Evaluasi perdarahan
  14. Tutup kulit lapis demi lapis.

    g. Komplikasi operasi

    1. dini

    – perdarahan dari pembuluh darah ovarium

    – ileus paralitik

    2. lambat :

    – adesi

    h.  Mortalitas

    Tidak ada, sangat rendah

    1. Perawatan Pasca Bedah
    2. Sadar baik boleh minum sedikit-sedikit kemudian diet bebas
    3. Kateter segera dilepas setelah penderita mobilisasi
    4. Evaluasi ILO hari 3, 5, 7
    5. Luka operasi diangkat pada hari 10 s/d 14

      j. Follow up

      1. Terhadap tindakan operasinya

      2.  Terhadap respon tumornya setelah dilakukan terapi hormonal

      Iklan

      Tinggalkan komentar

      Belum ada komentar.

      Comments RSS TrackBack Identifier URI

      Tinggalkan Balasan

      Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

      Logo WordPress.com

      You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

      Gambar Twitter

      You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

      Foto Facebook

      You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

      Foto Google+

      You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

      Connecting to %s

      • BUKU ATLAS PA – MHS FK

      • KALENDER

        Mei 2010
        S S R K J S M
            Jun »
         12
        3456789
        10111213141516
        17181920212223
        24252627282930
        31  
      • HITUNGAN PENGUNJUNG

      • PENGUNJUNG BLOG-KU

        free counters
      • MAPPING PENGUNJUNG BLOG