LABIOPLASTI (KEILOPLASTI)

Introduksi

a. Definisi

Suatu tindakan pembedahan dari labium atau bibir untuk memperbaiki bentuk dan fungsi.

b. Ruang Lingkup

Sumbing bibir unilateral

c. Indikasi Operasi

Untuk memperoleh bentuk wajah secara morfologi yang normal dan fungsi yang optimal untuk perkembangan pertumbuhan gigi geligi, mastikasi, pendengaran, pernapasan serta status psikososial.

d. Kontra Indikasi Operasi

Malnutrisi, anemia, dan kondisi pediatri lainnya yang dapat mengakibatkan pasien tidak mampu mentoleransi anastesia umum.  Kelainan jantung yang  menyertai harus dinilai terlebih dahulu sebelum dilakukan labioplasti.1

e. Diagnosis banding (tidak ada)

f.  Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah perifer lengkap

Teknik Operasi

  • Pasien anak-anak perlu pembiusan umum dengan bantuan pipa endotrakeal.  Pada pasien dewasa yang cukup kooperatif dapat dilakukan bius setempat.
  • Untuk meminimalisasi risiko anesthesia, waktu operasi yang optimal adalah setelah bayi berumur 3 bulan dengan berat badan minimal 5 kg.
  • Posisi pasien sedikit mendongak sehingga dataran yang akan dioperasi tegak lurus dengan garis pandangan mata operator.
  • Terdapat beberapa metode labioplasti diantaranya: teknik Rose-Thompson, teknik flap quadrangularis, teknik flap triangularis, teknik Millard dan teknik modifikasi Mohler.  Namun yang paling umum digunakan adalah teknik Millard yang caranya didasari oleh gerakan memutar dan memajukan (rotation and advancement).
  • Teknik operasinya yaitu pertama dari sisi lateral, mukosa dikupas dari otot orbikularis oris.  Kemudian otot orbikularis oris bagian merah bibir dipisahkan dari sisanya.  Kulit dan subkutis  dibebaskan dari otot orbikularis oris secara tajam, sampai kira-kira sulkus nasolabialis.
  • Lepaskan mukosa bibir dari rahang pada lekuk pertemuannya, secukupnya. Kemudian otot dibebaskan dari mukosa hingga terbentuk 3 lapis flap: mukosa, otot dan kulit.  Lalu pada sisi medial, mukosa dilepaskan dari otot.  Dibuat flap C.
  • Kemudian dibuat insisi 2 mm dari pinggir atap lubang hidung, bebaskan kulit dari mukosa dan tulang rawan alae, menggunakan gunting halus melengkung.  Letak tulang rawan alae diperbaiki dengan tarikan jahitan yang dipasang ke kulit.  Setelah jahitan terpasang, lekuk atap dan lengkung atas atap lubang hidung lebih simetris.
  • Kolumela dengan rangka tulang rawan dan vomer yang miring dari depan ke belakang sulit diperbaiki, sehingga masih miring.  Luka di pinggir dalam atap nares dijahit.  Kemudian mukosa oral mulai dari kranial, menghubungkan sulkus ginggivo labialis.  Jahitan diteruskan ke kaudal sampai ke dekat merah bibir.  Setelah itu otot dijahit lapis demi lapis.
  • Jahitan kulit dimulai dari titik yang perlu ditemukan yaitu ujung busur Cupido.  Diteruskan ke atas dan ke mukosa bibir.  Jaringan kulit atau mukosa yang berlebihan dapat dibuang.
  • Sebaiknya luka operasi ditutup dengan tule yang mengandung bahan pencegah perlengketan dan kasa lembab selama 1 hari, untuk menyerap rembesan darah/serum yang masih akan keluar.  1 hari sesudahnya baru luka dirawat terbuka dengan pemberian salep antibiotik.

g.  Komplikasi Operasi

  • Wound dehiscence paling sering terjadi akibat ketegangan yang berlebih dari tempat operasi
  • Wound expansion juga merupakan akibat dari ketegangan yang berlebih.  Bila hal ini terjadi, anak dibiarkan berkembang hingga tahap akhir dari rekonstruksi langitan, dimana pada saat tersebut perbaikan jaringan parut dapat dilakukan tanpa membutuhkan anestesi yang terpisah.
  • Wound infection merupakan komplikasi yang cukup jarang terjadi karena wajah memiliki pasokan darah yang cukup besar.  Hal ini dapat terjadi akibat kontaminasi pascaoperasi, trauma yang tak disengaja dari anak yang aktif dimana sensasi pada bibirnya dapat berkurang pascaoperasi, dan inflamasi lokal yang dapat terjadi akibat simpul yang terbenam.
  • Malposisi Premaksilar seperti kemiringan atau retrusion, yang dapat terjadi setelah operasi.
  • Whistle deformity merupakan defisiensi vermilion dan mungkin berhubungan dengan retraksi sepanjang garis koreksi bibir.  Hal ini dapat dihindari dengan penggunaan total dari segmen lateral otot orbikularis.
  • Abnormalitas atau asimetri tebal bibir  Hal ini dapat dihindari dengan pengukuran intraoperatif yang tepat dari jarak anatomis yang penting lengkung.

h. Perawatan Pasca bedah

  • Pemberian makanan per-oral: Untuk anak-anak yang mengkonsumsi ASI, dapat terus disusui setelah operasi.  Bagi anak-anak yang menggunakan botol, disarankan untuk menggunakan ujung kateter yang lunak selama 10 hari, baru dilanjutkan dengan penggunaan ujung dot yang biasa.
  • Aktivitas: Tidak ada batasan aktivitas tertentu yang perlu dilakukan, namun hendaknya aktivitas perlu diperhatikan untuk meminimalisasi risiko trauma pada luka operasi.
  • Perawatan bibir: Garis jahitan yang terpapar pada dasar hidung dan bibir dapat dibersihkan dengan kapas yang diberi larutan hidrogen peroksida dan salep antibiotika yang diberikan beberapa kali perhari.  Jahitan dapat diangkat pada hari ke 5 -7.

i. Follow – up

Setelah operasi labioplasti, pasien harus dievaluasi secara periodik terutama status kebersihan mulut dan gigi, pendengaran dan kemampuan berbicara, dan juga keadaan psikososial.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • BUKU ATLAS PA – MHS FK

  • KALENDER

    Mei 2010
    S S R K J S M
        Jun »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • HITUNGAN PENGUNJUNG

  • PENGUNJUNG BLOG-KU

    free counters
  • MAPPING PENGUNJUNG BLOG