FRAKTUR HUMERUS

Introduksi

a. Definisi

Diskontinuitas yang terjadi pada diafisis shaft tulang humerus karena rudapaksa/trauma

Klasifikasi fraktur humerus:

1. Fraktur proksimal humerus

  • One part fractures (minimally displaced)
  • Two part fractures
    • Fraktur tuberositas minor
    • Fraktur tuberositas mayor
    • Surgical neck fracture
  • Three part fractures (caput humeri, shaft humeri dan salah satu dari tuberositas)
  • Four part fractures
  • Fraktur dislokasi
  • Head splitting and articular impression fractures

2. Fraktur Shaft Humerus ( 1/3 tengah)

  • Tipe A (simple/non cominuted)
  • Tipe B (Butterfly fractures)
  • Tipe C (comminuted fractures)

3. Fraktur Distal Humerus (Kondilus Humeri)

  • T or Y fracture
  • Sideswipe fracture
  • Comminuted fracture of the articular surface
  • Anterior shearing fracture of capitulum

b. Ruang lingkup

Penanganan Fraktur Humerus

Fraktur proksimal humerus

  • Reduksi tertutup, jika fraktur stabil (one part fractures)
  • ORIF  atau pemakaian prostese jika fraktur tidak stabil

Fraktur shaft Humerus

– Reduksi tertutup

  • Hanging arm cast
  • Shoulder spica cast
  • Velpeau dressing
  • Coaptatioin splint
  • Functional brace

– Operatif

  • Plate Osteosintesis
  • Rigid Intramedullary Nail Fixation
  • Flexible Intramedullary Nail Fixation
  • Fiksasi eksternal

Fraktur distal humerus

Reduksi tertutup pada fraktur distal humerus tidak memberikan hasil yang memuaskan. Terapi operatif merupakan pilihan utama sebaiknya kasus ini dirujuk.

c.  Indikasi Operasi

  • Fraktur segmental
  • Multipel trauma
  • Fraktur terbuka
  • Trauma vaskuler
  • Fraktur shaft humeri bilateral
  • Floating elbow injury
  • Fraktur patologis
  • Reduksi tertutup yang sukar dipertahankan
  • Radial nerve palsy setelah reduksi tertutup
  • Pada penderita Parkinson
  • Lesi plexus brachial ipsilateral

d. Kontra indikasi Operasi

Keadaan Umumnya jelek

e. Pemeriksaan Penunjang

  • X-Ray, dengan 2 atau 3 proyeksi
  • CT-Scan

Teknik operasi

  • Eksposur dapat menggunakan cara anterolateral  atau midline posterior untuk fraktur 1/3 distal shaft humerus.
  • Gunakan  insisi yang baik, hindari retraksi soft tissue yang berlebihan dengan cara diseksi soft tissue yang seksama dan teknik bone handling yang baik. Identifikasi dan lindungi nervus radialis.
  • Plate dapat ditempatkan di permukaan  posterior atau anterolateral tulang.
  • Reduksi fraktur sebaik mungkin dan gunakan lag screw untuk kompresi interfragmental jika memungkinkan (pada fraktur oblique atau spiral).
  • Kemudian letakkan plate yang sesuai pada sisi kompresi jika memungkinkan.
  • Minimal gunakan 6 screw pada fragmen utama, beberapa penulis merekomendasikan 8 sampai 10 screw.
  • Pada fraktur transversal dan oblique yang pendek compression plate sangat bermanfaat.

f.  Komplikasi Operasi

  • Nonunion
  • Malunion
  • Avascular nekrosis (fraktur pada caput humerus)
  • Arthrodesis
  • Osteomyelitis (pada fraktur terbuka)
  • Trauma vaskuler
  • Lesi N. radialis

g. Mortalitas

Umumnya rendah

h. Perawatan Pasca Bedah

  • Perawatan luka operasi pada umumnya
  • Pasien diinstruksikan untuk mulai latihan ROM ringan beberapa hari setelah operasi dengan penekanan untuk menggerakkan jari-jari, pergelangan tangan dan siku untuk mencegah kekakuan sendi. Tambahkan latihan gerakan pendulum pada sendi bahu sesegera mungkin dimulai minggu-minggu awal post operatif.
  • Disarankan pasien untuk memakai sling sampai fungsi otot kembali secara penuh.
  • Latihan keras dihindari sampai 12 minggu atau sampai fraktur sembuh
Iklan

1 Komentar


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s